Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kacang Hijau (Vigna Radiata L) Akibat Pemberian Pupuk Organik Cair Dan Npk 16:16:16

Abstract

Setelah kacang tanah dan kedelai, kacang hijau merupakan tanaman Leguminosae ketiga yang paling penting di Indonesia. Tanah Podsolik Merah Kuning (PMK), yang memiliki reaksi asam, kandungan bahan organik rendah, serta unsur hara yang tidak mencukupi, masih mendominasi tanah di Riau. Pupuk organik cair Supermes adalah pupuk cair organik berkonsentrasi tinggi yang dirancang untuk mempercepat/meningkatkan pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan. Supermes mengandung C 6%, N 4%, P2O5 3%, K2O 3%. Karena kandungan unsur haranya yang rendah, pupuk organik saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman kacang hijau. Oleh karena itu, diperlukan tambahan pupuk anorganik guna memastikan ketersediaan unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. NPK dengan kandungan 16% N, 16% P, dan 16% K merupakan salah satu pupuk yang paling banyak digunakan baik untuk tanaman hias maupun tanaman perkebunan. Kombinasi pupuk organik dan anorganik dapat meningkatkan sifat kimia tanah, sehingga mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh serta menentukan interaksi optimal antara pertumbuhan dan produksi tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.) dengan aplikasi Pupuk Organik Cair dan NPK Mutiara 16:16:16. Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial digunakan dalam penelitian eksperimen ini. Penelitian ini terdiri dari dua faktor yang masing-masing diulang tiga kali, yaitu S (POC Supermes) dan N (pupuk NPK Mutiara), dengan masingmasing memiliki tiga tingkat perlakuan. Setiap unit percobaan terdiri dari 27 petak, dan setiap petak berisi sembilan tanaman, dengan empat tanaman digunakan sebagai sampel. Dengan demikian, total jumlah tanaman adalah 27 × 9 = 243 tanaman. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa aplikasi POC Supermes dan NPK 16:16:16 berpengaruh signifikan terhadap semua parameter yang diamati, termasuk volume akar, berat biji segar, berat biji kering, berat 100 biji, jumlah cabang produktif, jumlah polong per tanaman, dan tinggi tanaman. Analisis lanjutan menunjukkan bahwa POC Supermes dan NPK 16:16:16 memberikan dampak yang berbeda secara signifikan pada setiap perlakuan. Perlakuan S0N0 (tanpa POC Supermes dan NPK 16:16:16) menunjukkan respons terendah, sedangkan perlakuan S2N2 (aplikasi POC Supermes sebanyak 3 cc/liter dan pupuk NPK Mutiara sebanyak 7 g/tanaman) menghasilkan respons tertinggi.

Description

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By