Potensi Emisi Co2 Dalam Kegiatan Pemanenan Kayu Di Hutan Tanaman Akasia (Acacia Crassicarpa) (Studi Kasus: Pt. Arara Abadi, Distrik Siak)

dc.contributor.authorKusuma, Dewa
dc.date.accessioned2026-10-08T06:25:11Z
dc.date.issued2024
dc.description.abstractGas rumah kaca (GRK) adalah komponen atmosfer yang dapat terbentuk secara alami atau hasil dari aktivitas antropogenik, memiliki kemampuan menyerap dan memancarkan radiasi inframerah. Sektor kehutanan merupakan salah satu pilar ekonomi Indonesia, berperan sangat penting dalam kontribusi emisi GRK. Fokus pada Hutan Tanaman Industri (HTI), yang merupakan hutan produksi dengan tanaman monokultur, menjadi hal yang krusial. Proses produksi HTI melibatkan serangkaian kegiatan, mulai dari pembukaan lahan hingga pengantaran kayu ke pabrik, dengan pengelolaan menggunakan sistem mekanis yang melibatkan teknologi canggih seperti alat berat, pompong besi, mobil, dll. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengukur potensi emisi karbon (CO2) dari penggunaan bahan bakar fosil dalam kegiatan pemanenan kayu di hutan tanaman Acacia crassicarpa. Teknik pengumpulan data dilakukan secara observasi langsung kelapangan dan pengamatan. Pengamatan yang dilakukan penelitian adalah melihat, mendengar, dan mencatat sejumlah aktivitas tertentu atau situasi yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Observasi lapangan dilakukan secara langsung dengan fokus pada kegiatan pemanenan hasil hutan dan kegiatan penunjang yaitu pembukaan wilayah hutan. Adapun parameter yang diukur adalah kebutuhan bahan bakar fosil yang digunakan dalam kegiatan pemanenan kayu dan kegiatan penunjang lainnya. Data yang terkumpul menjadi dasar untuk analisis potensi emisi CO2 yang terkait dengan penggunaan bahan bakar fosil. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa dalam kegiatan pemanenan kayu sebesar 1 ton menghasilkan emisi CO2 sebanyak 2,12 Ton. Emisi CO2 2,12 Ton berasal dari penggunaan bahan bakar fosil berupa solar dan bensin dari alat/transportasi. Kegiatan pemanenan kayu yaitu, kegiatan penebangan kayu menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,43 Ton. Kegiatan pre-bunching menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,43 Ton. Kegiatan delimbing dan cut-to-length menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,025 Ton. Kegiatan penyaradan menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,37 Ton. Kegiatan pengangkutan kayu terbagi menjadi dua yaitu, pertama pengangkutan kayu menggunakan tug boat menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,39 Ton, setelah itu pengangkutan kayu menggunakan truk dengan emisi CO2 sebesar 0,18 Ton. Kegiatan pemuatan dengan emisi CO2 sebesar 0,29 Ton. Dari kegiatan tersebut, kegiatan pemanenan kayu dan pre-bunching merupakan kegiatan paling besar menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,43 Ton. Kegiatan penunjang atau pembukaan wilayah hutan (PWH) menghasilkan emisi CO2 sebesar 1,22 Ton/Ha. Angka tersebut berasal dari penggunaan bahan bakar fosil berupa solar dari alat berat kegiatan PWH yaitu, kegiatan perataan jalan menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,23 Ton. Kegiatan pemadatan jalan menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,24 Ton. Kegiatan pembersihan lahan proyek bangunan menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,25 Ton. Kegiatan cuci kanal dengan emisi CO2 sebesar 0,5 Ton.
dc.identifier.urihttps://repository.unilak.ac.id/handle/123456789/1059
dc.language.isoother
dc.publisherUniversitas Lancang Kuning
dc.subjectFORESTRY, AGRICULTURAL SCIENCES and LANDSCAPE PLANNING
dc.subjectGas rumah kaca (GRK)
dc.subjectHutan Tanaman Industri (HTI)
dc.titlePotensi Emisi Co2 Dalam Kegiatan Pemanenan Kayu Di Hutan Tanaman Akasia (Acacia Crassicarpa) (Studi Kasus: Pt. Arara Abadi, Distrik Siak)
dc.typeThesis

Files

Original bundle

Now showing 1 - 2 of 2
Loading...
Thumbnail Image
Name:
1954251001_BAB-I_VI_DAFTAR-PUSTAKA.pdf
Size:
903.47 KB
Format:
Adobe Portable Document Format
Loading...
Thumbnail Image
Name:
1954251001_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Size:
1.12 MB
Format:
Adobe Portable Document Format